Masalah jangan dijadikan beban,sebab dengan masalah kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup ini

Jumat, 15 Juni 2012

Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf


Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Deskriptif dengan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Jatirejo Kabupaten Mojokerto.
Suwarsono (Program Studi Bahasa Indonesia FKIP UNIM).
ABSTRACT
Key Words: writing, descriptive pharagraph, usage of picture media,
Writing is one of language aspects that must be able to do by student. So, the learning of writing have to do well and use any learning aids according the characteristic of each writing material.
This research is analysing the effects of ussage picture as media in the writing of descriptive pharagraph at the 8th students of SMP Negeri 2 Jatirejo mojokerto.

Latar Belakang
Menulis adalah salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting dikuasai siswa dalam pembelajaran bahasa untuk mendukung fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Melalui kegiatan pembelajaran bahasa, siswa diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang meliputi keterampilan mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis.
Kurikulum 2006 (Standar Isi) mengamanatkan bahwa siswa mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi, lebih daripada sekadar pengetahuan bahasa. Pembelajaran bahasa  bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa dan bersastra, meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar serta meningkatkan kemampuan memperluas wawasan. Selain itu, juga diarahkan untuk mempertajam perasaan siswa. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas/tersurat atau langsung, tetapi juga yang disampaikan secara terselubung/tersirat atau tidak langsung. Siswa tidak hanya pandai dalam bernalar, tetapi juga memiliki kepekaan di dalam hubungan sosial dan dapat menghargai perbedaan, baik dalam hubungan antarindividu maupun dalam kehidupan di masyarakat yang berlatar berbagai budaya dan agama.
Pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jatirejo Kabupaten Mojokerto khususnya di kelas VIII, yang juga menggunakan Kurikulum 2006, juga menekankan penguasaan empat keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra. Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa dengan baik adalah keterampilan menulis, baik menulis fiksi maupun nonfiksi. Setelah kegiatan pembelajaran pada setiap Kompetensi Dasar (KD) Aspek Menulis, siswa harus menghasilkan “produk”, yaitu tulisan.
Kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan menulis siswa kelas SMP Negeri 2 Jatirejo Kabupaten Mojokerto rendah. Umumnya siswa mengalami kesulitan ketika memulai menulis paragraf. Menulis kalimat pertama sebuah paragraf sungguh sulit bagi siswa. Oleh karena itu, menulis yang sesungguhnya melibatkan semua keterampilan berbahasa siswa adalah kesulitan siswa yang utama. Hasil tulisan/karangan siswa belum menunjukkan sebagai karangan yang baik atau belum maksimal, baik dari segi bentuk maupun isi. Dari segi bentuk masih banyak ditemui kesalahan-kesalahan, misalnya pemenggalan kata, penulisan kata, penggunaan tanda-tanda yang tidak diperbolehkan, penggunaan kata sambung ”setelah” yang diulang-ulang, dan kalimat yang tidak efektif. Dari segi isi ditemui urutan atau alur yang melompat-lompat, dan gagasan tidak padu.
Untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa perlu dilakukan berbagai upaya, misalnya pelatihan khusus menulis, penugasan membaca dan merangkum, penerapan berbagai teknik mengajar menulis yang efektif, dan penggunaan media pembelajaran menulis yang tepat dan efektif.
Berdasarkan kondisi objektif di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian peningkatan kemampuan menulis siswa, utamanya menulis paragraf, dengan media gambar.
Kajian Pustaka
1. Menulis sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa
Menulis adalah kegiatan menuangkan ide, gagasan, konsep, pikiran, ataupun imaginasi ke dalam bentuk tulis (cetak). Sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa, menulis merupakan aspek yang paling sulit di antara keterampilan lainnya, seperti mendengarkan, berbicara, dan membaca. Pada kegiatan menulis, siswa dituntut mencurahkan segala pengetahuan dan kemampuan lainnya untuk dapat menghasilkan sebuah “tulisan”.
Tulisan yang baik umumnya dihasilkan oleh orang gemar membaca, berwawasan luas, banyak mendengarkan segala sesuatu, dan mempunyai kemampuan berpikir yang baik. Leonhardt (2005:103) berpendapat bahwa kebiasaan membaca sangat penting bagi keberhasilan menulis.
Tulisan yang baik memiliki alur, isi, dan kebahasaannya yang baik. Dari segi alur, tulisan yang baik mempunyai alur berpikir yang urut, dan berkesinambungan. Dari segi isi, tulisan yang baik memuat informasi yang benar-benar akurat dan kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dan dari segi kebahasaan, karangan yang baik menggunakan ejaan yang benar, diksi yang variatif, kalimat yang efektif, dan paragraf yang padu.
Untuk menghasilkan tulisan yang baik, siswa perlu berlatih dan berlatih. Keterampilan menulis tidak bisa diperoleh dengan cepat seperti halnya belajar membaca. Menulis perlu dibiasakan sejak dini dan memerlukan proses yang cukup panjang. Kegiatan menulis merupakan suatu keterampilan yang dapat dibina dan dilatihkan. Djuharie (2001:121) menyatakan bahwa kegiatan menulis memerlukan pelatihan dan pembiasaan yang sungguh-sungguh, sehingga kegiatan yang sulit namun berharga tinggi ini dapat diwujudkan.
Leonhardt (2005:79-96) mengemukakan kiat menulis bagi anak usia sekolah antara lain:
  1. Sarankan agar anak remaja bergabung dengan staf koran, buku tahunan, atau majalah kesusastraan sekolah;
  2. Bantulah mereka memikirkan cara untuk mulai menggunakan tulisan mereka secara profesional;
  3. Doronglah anak Anda untuk mengikutsertakan karya terbaiknya dalam sayembara menulis atau mengirimkannya ke majalah.
  4. Dorong anak Anda menerbitkan karya mereka sendiri.
DePorter (2002:179) menyatakan,“menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika).” Selanjutnya, DePorter (2002:194-195) mengemukakan tahap-tahap proses menulis yang efektif untuk semua jenis tulisan, yaitu:
  1. Persiapan : melakukan pengelompokan (clustering) dan menulis cepat (fastwriting);
  2. Draft Kasar : pengeksplorasian dan pengembangan gagasan-gagasan;
  3. Memperbaiki : dari umpan balik, perbaiki tulisan tersebut dan bagikan lagi;
  4. Penyuntingan: Perbaiki semua kesalahan tatabahasa dan tanda baca;
  5. Penulisan Kembali: Masukkan isi yang baru dan perubahan penyuntingan;
  6. Evaluasi: Pemeriksaan apakah tugas menulis itu sudah selesai.
2. Paragraf
Paragraf adalah kesatuan yang lebih tinggi dari kalimat. Paragraf hanya terdiri dari satu tema. Paragraf bukan satu kalimat, tetapi beberapa kalimat yang memiliki satu pokok pikiran. Pokok pikiran dalam paragraf didukung oleh adanya kesatuan arti yang bersumber dari beberapa kalimat. Jadi, paragraf bukan kumpulan dari beberapa kalimat yang tidak memiliki kesatuan arti. (Anwar Hasnun, 2006:25).
Dalam sebuah paragraf yang baik dituntut adanya prinsip-prinsip:
(1) Kesatuan
Kesatuan menunjukkan bahwa kalimat-kalimat yang ada dalam satu paragraf mendukung satu tema/pikiran. Kesatuan dalam paragraf menyangkut pembicaraan tentang gagasan utama dan gagasan tambahan/pendukung. Keduanya dalam perwujudan berupa kalimat utama dan kalimat penjelas. Posisi kalimat utama dan kalimat penjelas tidak selalu tetap. Dalam hal ini kalimat utama dapat mengambil posisi di awal paragraf, di akhir paragraf, di awal dan di akhir paragraf, serta di seluruh kalimat dalam paragraf.
(2) Kepaduan (Koherensi)
Kepaduan mengacu kepada hubungan yang harmonis antar kalimat dalam paragraf. Kepaduan paragraf menunjukkan kepada pengertian bahwa kalimat-kalimat yang mendukung paragraf itu terjalin apik dan harmonis. Perpindahan dari kalimat yang satu ke kalimat berikutnya mengalir secara wajar dan lancar. Hubungan antarkalimat inilah justru yang memudahkan pembaca memahami paragraf itu.
Kehadiran sebuah dalam paragraf yang tidak mempunyai fungsi yang mendukung secara langsung pikiran utama, akan mengurangi kepaduan. Kalimat yang demikian disebut kalimat sumbang. Dengan demikian, dalam kepaduan paragraf tidak diinginkan kehadiran kalimat sumbang itu.
(3) Pengembangan
Pengembangan mengacu kepada teknik penyusunan gagasan-gagasan dalam paragraf, baik gagasan utama maupun gagasan bawahan. Semakin rinci seorang penulis mengemukakan gag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar